Welcome to AGENDA   Click to listen highlighted text! Welcome to AGENDA Powered By GSpeech

Library

Pemilu Aksesibel PR Besar Di Kamboja

Print
Written by agendaasia.org

news-big to-do-list-for-accessible-election-in-cambodia-image1

TPS di Cambodia umumnya didirikan di bangunan yang bertangga-tangga

Oleh: Riri Rafiani, PPUA Penca

Usai pengawasan pemilu lokal di Kamboja, para sukarelawan dan tim AGENDA berkumpul pada tanggal 4 Juni untuk membahas hasilnya. Secara keseluruhan, pemilu tersebut dinilai telah berlangsung damai dan tertib. Meski demikian, rakyat Kamboja masih harus banyak berbenah di bidang aksesibilitas.

Banyak tempat pemungutan suara (TPS) yang dimonitor di lima provinsi tidak menyediakan akses yang memadai. Bangunan yang digunakan sebagai lokasi TPS biasanya merupakan fasilitas umum seperti sekolah atau balai rakyat yang kebanyakan diakses menggunakan tangga tapi tidak dilengkapi rampa (ramp) dan terletak di tengah lapangan berumput dan berlumpur. Kondisi ini sama sekali tidak mendukung, terutama bagi pemilih dengan keterbatasan mobilitas.

news-big to-do-list-for-accessible-election-in-cambodia-image2.jpgnews-big to-do-list-for-accessible-election-in-cambodia-image3.jpg

Pen Hor (kanan) da Suon Kroch (kiri) kehilangan hak pilihnya karena nama mereka tidak terdafatar.

Hasil temuan pengawasan pemilu juga menunjukkan bahwa pemilih dengan disabilitas kerap diabaikan dalam fase pendaftaran pemilih dan dengan demikian kehilangan hak pilihnya. Dilaporkan seorang perempuan tunanetra mengaku belum pernah memilih seumur hidupnya karena namanya tidak pernah masuk dalam daftar pemilih. Dalam kasus lain, seorang lelaki penyandang cerebral palsy tidak didaftarkan hanya karena petugas pemilu berasumsi lelaki tersebut secara intelektual tidak mampu memilih, meski kenyataannya ia adalah ketua Organisasi Penyandang Disabilitas setempat. Kasus-kasus seperti ini menunjukkan bahwa masyarakat masih memandang penyandang disabilitas sebagai kalangan dengan kecerdasan terbatas.

Secara umum kepekaan petugas pemilu dinilai masih rendah. Petugas pemilu tidak memberikan bantuan yang diperlukan pemilih penyandang disabilitas. Keo Sophany yang melakukan pengawasan di Provinsi Kampot melaporkan kejadian semacam itu. “Ada pemilih yang mengalami kesulitan mencapai TPS, tapi tidak ada [petugas pemilu] yang peduli. Kami [para pengamat] harus menemui mereka dan meminta mereka membantu pemilih tersebut. Baru kemudian mereka turun tangan menolong.”

Meski demikian, ada indikasi bahwa panitia pemilu telah berupaya membantu pemilih tunanetra. Di salah satu TPS di Kampong Cham, alat bantu telah disediakan. Sayangnya, hal ini tidak terlalu efektif karena hampir tidak ada penyandang disabilitas yang menggunakan alat tersebut. Ier Eam Sim yang melakukan pengawasan di Provinsi Takeo melaporkan: “Pemilih tunanetra tidak menggunakan [alat bantu] karena, pertama, petugas pemilu tidak memberikan penjelasan, dan kedua, desain alat tersevut tidak cocok untuk mereka.” Alat tersebut hanya menyediakan lubang-lubang sesuai jumlah partai yang bersaing, tapi tanpa informasi yang bisa diraba untuk membantu pemilih mengenal partai-partai tersebut sebelum memberikan suara. Faktor lain yang menyebabkan alat ini tidak efektif adalah kurang meratanya distribusi. Program Manager NICFEF Darith yang melakukan pengawasan di Provinsi Kampong Cham melaporkan adanya satu TPS yang tidak menyediakan alat bantu karena hanya ada satu pemilih tunanetra di wilayah tersebut. Rupanya jumlah pemilih tunanetra adalah salah satu faktor penentu dalam distribusi.

Pembahasan yang diadakan di Khmer Surin Restaurant tersebut juga mengangkat beberapa kekurangan dalam proses pengawasan. Saroen [nama organisasi dan jabatan, atau kalau sukarelawan tegaskan] mencatat beberapa pengawas yang tidak sepenuhnya memahami aturan pemilu. Menurutnya, “Ada kasus di mana pemilih datang dengan surat-surat yang tidak lengkap tapi diizinkan memilih. Dan kejadian ini luput dari pengamatan pengawas, tidak dicatat sebagai kejanggalan.”

Darith juga mengangkat keprihatinannya tentang pemahaman para pengawas. “Ada pengawas yang tidak sepenuhnya mengerti bagaimana menggunakan checklist dan etika [pengawas pemilu]. Pengawas tidak boleh masuk ke bilik suara. Ada juga pengawas yang meninggalkan TPS begitu keadaan sudah sepi. Pengawas seharusnya tinggal sampai semua pemilih penyandang disabilitas telah datang memberikan suara.”

Meski demikian, tim sepakat bahwa kekurangan tersebut masih bisa dimengerti mengingat pemilu lokal ini adalah kali pertama semua pihak yang terlibat turut serta dalam pengawasan aksesibilitas pemilu. “Ini pertama kalinya penyandang disabilitas diundang turut serta dalam pengawasan seperti ini. Sebelumnya pengawasan kami terbatas pada prosedur, sistem, dan lain lain. Baru hari ini kami memusatkan perhatian pada aspek-aspek aksesibilitas. Tapi kami bangga karena kita semua paham mengapa kita hadir di sini hari ini,” ujar Project Officer CDPOT, Khy Huy. Ia juga menggarisbawahi pentingnya inisiatif ini. “CDPO [Organisasi Penyandang Disabilitas Kamboja] akan membawa temuan pengawasan ini kepada NEC [Komite Pemilu Nasional Kamboja] pada bulan Juli. Ini hal sederhana tapi sangat penting karena NEC akan bisa mendengar suara kita. Kita akhirnya akan bisa membangun advokasi [isu disabilitas] yang lebih baik dan lebih konkret. Saya menyadari ini merupakan langkah yang kecil, tapi kita harus maju selangkah demi selangkah.”

PPCI Program Manager Yusdiana sependapat. “Saya yakin ini baru permulaan dalam sistem pendidikan pemilih di Kamboja. Selanjutnya, saudara-saudara bisa melakukan kampanye publik yang baik, untuk mengajak anggota keluarga untuk memilih dan mendaftar sebagai pemilih,” tuturnya.

Selanjutnya Darith mengajak semua yang hadir untuk terlibat aktif dalam isu disabilitas. “Kami ingin menggugah saudara-saudara dan kami ingin saudara-saudara menggugah penyandang disabilitas untuk menggunakan haknya. Saya harap di masa depan penyandang disabilitas akan lebih paham tentang pemilu dan hal-hal lainnya.”

foudedpartner

 

ausaid-dfatausaidifesppdijppr

Social Media

Facebook
Twitter
Youtube
Instagram
Googleplus
Dropbox
Skype
2011. AgendaAsia.org. Jl. Jend. Sudirman Kav. 32, Jakarta, 10220, Indonesia Tel: +6221 5795 6807
By: Fresh Joomla templates
Click to listen highlighted text! Powered By GSpeech